Tampilkan postingan dengan label Articles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Articles. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2007

Mitos Seks, dari "Tangkur" Buaya Sampai "Daun Muda"

Berbagai mitos seks yang beredar di masyarakat telah menyebabkan pria merasa sebagai makhluk seksual yang lebih hebat daripada wanita.

Bahkan, wanita dianggap sebagai makhluk yang aseksual. Karenanya banyak pria yang menganggap urusan seks tidak penting bagi wanita. Dengan kata lain wanita dianggap hanya bertugas melayani kebutuhan seksual pria, bukan sebaliknya yakni saling melayani.

Ini merupakan suatu anggapan yang dapat menimbulkan akibat cukup parah --khususnya dalam hubungan suami istri.

Pria, yang selalu diunggulkan oleh mitos-mitos itu, akan merasa sangat kecewa dan terpukul kalau ternyata ia tidak lebih hebat dari wanita pasangannya. Pria dapat merasa sangat kecewa kalau ternyata ia gagal memberi kepuasan seksual pada wanita. Bahkan, tidak sedikit pria yang kemudian menderita disfungsi ereksi karena perlakuan sang istri yang melecehkannya akibat tidak pernah merasakan kepuasan seksual.

Karena mitos seks, banyak orang yang melakukan upaya untuk memenuhi harapan sesuai dengan mitos itu. Tidak jarang yang kemudian mengalami akibat buruk karena upaya yang dilakukan tidak benar.

Berikut sejumlah mitos seks yang beredar di masyarakat:

Hubungan seksual dengan orang yang lebih muda dapat membuat awet muda. Benarkah?

Ada anggapan yang menyatakan bahwa hubungan seksual dengan anak muda akan menyebabkan awet muda. Karenanya banyak pria tua mencari wanita muda agar menjadi awet muda, sehingga muncul istilah “daun muda”. Sebaliknya banyak pula wanita pekerja seks membujuk anak jalanan agar terangsang dan mau melakukan hubungan seksual sebagai “obat awet muda”, walaupun dalam hal ini belum muncul istilah "batang muda" .

Tentu saja fenomena ini sangat merugikan bahkan membahayakan bagi anak-anak jalanan itu. Kemungkinan mereka tertular Penyakit Menular Seksual (penyakit kelamin) sangat besar. Kalau penyakit yang menularinya adalah penyakit yang “biasa” dan mudah disembuhkan, mungkin bukan suatu masalah besar. Tetapi bagaimana kalau anak-anak itu tertular HIV/AIDS?

Yang pasti, tidak ada dasar ilmiah yang membenarkan bahwa hubungan seksual dengan anak muda akan menyebabkan awet muda. Anggapan ini jelas salah dan hanya merupakan suatu mitos.

Selengkapnya...

Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli Andrologi dan Seksologi

Jumat, 09 November 2007

Mbako Tingwe (nglinting dewe)

HEMAT & NIKMAT NGROKOK TINGWE... , NGAPA TIDAK?


Merokok? ….enak tenaaan! Itu kata mereka yang nggebis, termasuk saya. Kita para penggebis mampu menghabiskan 30 hingga 40 batang rokok sehari. Sungguh percuma menghimbau kita untuk berhenti merokok. Walau ditatar dengan 1001 macam fakta soal bahaya merokok masih saja kita klepas-klepus ngrokok. Abis enak sih! Begitu alasan kita tanpa penjabaran lebih jauh. Waton ngeyel memang, tapi ya seperti itulah sikap lebih dari 140 juta pecandu rokok seperti kita di Indonesia.

Kelompok PKB (perokok kelas berat) dengan jutaan umat itu jelas kemudian menjadi sasaran empuk, dimangsa oleh pihak tertentu. Kita diiming-imingi, diumpan, dipancing dan dibanjiri dengan produk rokok siap sumet. Iklannya gencar di sembarang acara dan tempat. Distribusinya menohok dari pedagang grosir hingga asongan. Dijual dalam partai besar hingga ketengan. Yang diharapkan dari kegiatan itu adalah meningkatnya jumlah perokok dan jumlah konsumsi rokok. Ujung-ujungnya tentu saja duit, suatu keuntungan yang besar sa’ hohah.

Selengkapnya...

Oleh: Yo. Prihardianto


Senin, 05 November 2007

History of Communications (35,000 BC-1998 AD)

The Nomadic Age

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

35,000 BC First paleolithic “writings.”

30,000 BC Crude Cro-Magnon lunar calendar used to hunt (First Information Revolution).

12,600 BC Lascaux Cave Paintings.

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

The Agricultural Age (”Civilization” begins)

. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

8000 BC The Agricultural Age begins in the area around Israel, Iraq, Syria, and Lebanon.

8000 BC First farming and herding in the Near East.

8000 BC First objects used for accounting (clay cones) (Second Information Revolution).

4000-3000 BC Proto-Indo-European (PIE) language develops. It spreads with the success of the people living in the Russian Steps Northeast of the Black Sea. Advances in metallurgy are the key and the domestication of the horse. Granddaughter cultures spread West and North of Hungary.

3400 BC First Sumerian Pictograms.

3500 BC Farming becomes the dominant lifestyle in the Near East. Selengkapnya

Prehistoric Art - Neolithic

(10,000 - 5,000 BC)
Stonehenge, UK The Neolithic period, also called New Stone Age, began when men first developed agriculture and settled in permanent villages. It ended with the discovery of bronze. The prime medium of Neolithic art was pottery. Other important artistic expressions were statuary of the universally worshiped Mother Goddess and megalithic stone monuments.

Free standing sculpture had already begun by the Neolithic, the earliest being the anthropomorphic figurines, often embellished by animals from the very beginning of the Neolithic discovered in Nevali Cori and Göbekli Tepe near Urfa in eastern Turkey, dating to ca. 10th millennium BC. The mesolithic statues of Lepenski Vir at the Iron Gorge, Serbia and Montenegro date to the 7th millennium BC and represent either humans or mixtures of humans and fish.

In Central Europe, many Neolithic cultures, like Linearbandkeramic, Lengyel and Vinca, produced female (rarely male) and animal statues that can be called art. Whether the elaborate pottery decoration of, for example, the Želiesovce and painted Lengyel style are to be classified as art is a matter of definition.

Megalithic monuments are found in the Neolithic from Spain to the British Isles and Poland. They start in the 5th Millennium BC, though some authors speculate on Mesolithic roots. Because of frequent reuse, this is difficult to prove. While the most well-known of these is Stonehenge, were the main structures date from the early Bronze age, such monuments have been found throughout most of Western and Northern Europe, notably at Carnac, France, at Skara Brae in the Orkney Islands, in Portugal, and in Wiltshire, England, the area of Stonehenge, the Avebury circle, the tombs at West Kennet, and Woodhenge. One tomb found in New Grange, Ireland, has its entrance marked with a massive stone carved with a complex design of spirals. The tomb of Knowth has rock-cut ornaments as well. Many of these monuments were megalithic tombs, and archaeologists speculate that most have religious significance.

Prehistoric Art - Mesolithic / Archaic

(10,000 - 5,000 BC)
Lepenski Vir: Fish-like figure The Mesolithic is the period of middle Stone Age, from about 10,000 - 5,000 BC years ago. It corresponds to period of primarily nomadic hunting and gathering which preceded the adoption of domesticated plants and animals.

The term Mesolithic is used to characterize that period in Europe and, sometimes, parts of Africa and Asia. That stage is usually called the Archaic in the Americas and in the rest of the world, it's usually characterized by Microliths.

This was a period when humans developed new techniques of stone working. At that time, people stayed longer in one place and gave increased attention to the domestication. There is a gap in the artistic activity of people of that epoch. Most of what has survived from the Mesolithic era is small statuette size works and paintings in shallow shelter caves.

The rich art of the Paleolithic is replaced by a Mesolithic art that is quite different. There are many changes in style as well as meaning. Upper Paleolithic cave art depicts colored drawings and expressive features of animals. A full range of color is used. Mesolithic art in contrast is schematic; no realistic figures are present and only the color red is used. This form is also found in North Africa and the northern Mediterranean.

Prehistoric Art - Paleolithic

(2 million years ago-13,000 BC.)
Paleolithic or "Old Stone Age" is a term used to define the oldest period in the human history. The Paleolithic or Palaeolithic - lit. old stone from the Greek paleos=old and lithos=stone. It began about 2 million years ago, from the use of first stone tools and ended of the Pleistocene epoch, with the close of the last ice age about 13,000 BC.

Subdivisions of the Paleolithic include the: Lower Paleolithic (Oldowan, Clactonian, Abbevillian, Acheulean), Middle Paleolithic, the time of the hand axe-industries (Mousterian) and Upper Paleolithic (Châtelperronian, Aurignacian, Solutrean, Gravettian, Magdalenian). The Paleolithic is followed by the Mesolithic or Epipaleolithic.

The Lower spans the time from around 4 million years ago when the first humans appear in the archaeological record, to around 120,000 years ago when important evolutionary and technological changes ushered in the Middle Palaeolithic.

In Europe and Africa the Middle Paleolithic (or Middle Palaeolithic) is the period of the early Stone Age that lasted between around 120,000 and 40,000 years ago. It was the time when early humans gained increasing control over their surroundings and later saw the emergence of modern humans around 100,000 years ago. Stone tool manufacturing developed a more sophisticated tool making technique which permitted the creation of more controlled and consistent flakes. Hunting provided the primary food source but people also began to exploit shellfish and may have begun smoking and drying meat to preserve it. This would have required a mastery of fire and some sites indicate that plant resources were managed through selective burning of wide areas. Artistic expression emerged for the first time with ochre used as body paint and some early rock art appearing. There is also some evidence of purposeful burial of the dead which may indicate religious and ritual behaviors.

The Upper Paleolithic (or Upper Palaeolithic) is the third and last subdivision of the Paleolithic or Old Stone Age as it is understood in Europe, Africa and Asia. Very broadly it dates to between 40,000 and 8,500 years ago. Modern humans, who had begun migrating out of Africa during the Middle Paleolithic period, began to produce regionally distinctive cultures during the Upper Paleolithic period. The earliest remains of organized settlements in the form of campsites, some with storage pits, are encountered in the archaeological record. Some sites may have been occupied year round though more generally they seem to have been used seasonally with peoples moving between them to exploit different food sources at different times of the year. Technological advances included significant developments in flint tool manufacturing with industries based on fine blades rather than cruder flakes. The reasons for these changes in human behavior have been attributed to the changes in climate during the period which encompasses a number of global temperature drops. Artistic work also blossomed with Venus figurines and exotic raw materials found far from their sources suggest emergent trading links.

Paleolithic Art, produced from about 32,000 to 11,000 years ago, falls into two main categories: Portable Pieces (small figurines or decorated objects carved out of bone, stone, or modeled in clay), and Cave Art.

MANNERISM

1520-1600
Artists of the Early Renaissance and the High Renaissance developed their characteristic styles from the observation of nature and the formulation of a pictorial science. When Mannerism matured after 1520(The year Raphael died), all the representational problems had been solved. A body of knowledge was there to be learned. Instead of nature as their teacher, Mannerist artists took art. While Renaissance artists sought nature to find their style, the Mannerists looked first for a style and found a manner.

In Mannerist paintings, compositions can have no focal point, space can be ambiguous, figures can be characterized by an athletic bending and twisting with distortions, exaggerations, an elastic elongation of the limbs, bizarre posturing on one hand, graceful posturing on the other hand, and a rendering of the heads as uniformly small and oval. The composition is jammed by clashing colors, which is unlike what we've seen in the balanced, natural, and dramatic colors of the High Renaissance. Mannerist artwork seeks instability and restlessness. There is also a fondness for allegories that have lascivious undertones.

Constructivism

1915-1940s

Vladimir Tatlin: Monument to the Third International Constructivism was first created in Russia in 1913 when the Russian sculptor Vladimir Tatlin, during his journey to Paris, discovered the works of Braque and Picasso. When Tatlin was back in Russia, he began producing sculptured out of assemblages, but he abandoned any reference to precise subjects or themes. Those works marked the appearance of Constructivism. The name Constructivism did not describe a specific movement but rather a trend within the fields of painting, sculpture and especially closely conjoined artists and their art with machine production, architecture and the applied arts.

Constructivism art refers to the optimistic, non-representational relief construction, sculpture, kinetics and painting. The artists did not believe in abstract ideas, rather they tried to link art with concrete and tangible ideas. Early modern movements around WWI were idealistic, seeking a new order in art and architecture that dealt with social and economic problems. They wanted to renew the idea that the apex of artwork does not revolve around "fine art", but rather emphasized that the most priceless artwork can often be discovered in the nuances of "practical art" and through portraying man and mechanization into one aesthetic program.

Constructivism was an invention of the Russian avant-garde that found adherents across the continent. The artists mainly consisted of young Russians trying to engage the full ideas of modern art on their own terms. They depicted art that was mostly three dimensional, and they also often portrayed art that could be connected to their Proletarian beliefs. Theory of constructivism is derived from Russian Suprematism, Dutch Neo Plasticism (De Stijl) and the German Bauhaus. Germany was the site of the most Constructivist activity outside of the Soviet Union to Walter Gropius's Bauhaus, a progressive art and design school sympathetic to the movement, same as other art centers, like Paris, London, and eventually the United States.

De Stijl (The Style)

(1916-1931)
Piet Mondrian:Composition A The De Stijl (literally, "the style") art movement was founded by the painter and architect Theo van Doesburg in Leiden in 1917. It encompassed a new type of style in modern art and architecture. This movement used the artistic talent of the artists by designing homes, buildings, and furniture.

Founder members of the group included the painter Mondrian, the sculptor Vantongerloo, the architect J.J.P. Oud and the designer and architect Rietveld. They were eager to develop a new aesthetic consciousness and an objective art based on clear principles. Their work and research extended to the fine arts, city and town planning, the applied arts and philosophy.

A magazine called De Stijl, published between 1917 and 1932, presented the movement's works and theoretical foundations to an international readership. In the magazine Mondrian wrote, "The pure plastic vision should build a new society, in the same way that in art it has built a new plasticism." Hiss article, "The New Plastic in Painting", best expresses their ideas for reduction of form and simplistic abstraction: "The new plastic art...can only be based on the abstraction of all form and color, i.e. the straight line and the clearly defined primary color" (Lemoine, 1987, p.29).

Art was seen as a collective approach, with a language that went beyond cultural, geographical and political divisions. The depersonalization of the artwork was carried through into the execution which was anonymous and impersonal. The artist's personality took a back seat to a conscious and calculated working process. The key ideas underpinning the movement could not be separated from Mondrian's aesthetic theory of Neo-Plasticism. This theory was aimed at scaling down the formal components of art - only primary colors and straight lines. A painting was derived from the features of the surface, although many De Stijl paintings were abstractions of natural phenomena, such as van Doesburg's "Rhythms of a Russian Dance" (1918).

While Mondrian's work adhered to the strict principles of Neo-Plasticism, Van Doesburg sought to broaden the movement's research projects into architecture, reconceiving the entire living environment. A De Stijl picture represented a fragment of a larger project concerning space: the house as an interior space, and the city as an assembly of houses. The austere forms of De Stijl were well suited to the geometric structures favored by the International Modernist movement, while the primary colors favored by the painters could be used as decorative elements to articulate an otherwise plain facade.

The principles of De Stijl art and design exerted tremendous influence on the Bauhaus Style in Germany in the 1920s, and after Mondrian's immigration to New York in 1940, the U.S.A.

Sabtu, 03 November 2007

DADA

1916-1920s
Dadaism or Dada is a post-World War I cultural movement in visual art as well as literature (mainly poetry), theatre and graphic design. The movement was, among other things, a protest against the barbarism of the War and what Dadaists believed was an oppressive intellectual rigidity in both art and everyday society; its works were characterized by a deliberate irrationality and the rejection of the prevailing standards of art. It influenced later movements including Surrealism.

According to its proponents, Dada was not art; it was anti-art. For everything that art stood for, Dada was to represent the opposite. Where art was concerned with aesthetics, Dada ignored them. If art is to have at least an implicit or latent message, Dada strives to have no meaning--interpretation of Dada is dependent entirely on the viewer. If art is to appeal to sensibilities, Dada offends. Perhaps it is then ironic that Dada is an influential movement in Modern art. Dada became a commentary on art and the world, thus becoming art itself.

The artists of the Dada movement had become disillusioned by art, art history and history in general. Many of them were veterans of World War I and had grown cynical of humanity after seeing what men were capable of doing to each other on the battlefields of Europe. Thus they became attracted to a nihilistic view of the world (they thought that nothing mankind had achieved was worthwhile, not even art), and created art in which chance and randomness formed the basis of creation. The basis of Dada is nonsense. With the order of the world destroyed by World War I, Dada was a way to express the confusion that was felt by many people as their world was turned upside down.

Bauhaus

1919-1930s
Walter Gropius:Bauhous School Building
The Bauhaus is one of the first colleges of design. It came into being from the merger of the Weimar Academy of Arts and the Weimar School of Arts and Crafts. It was founded by Walter Gropius in 1919 and was closed in 1933 by the Nazis.

The Bauhaus holds a place of its own in the culture and visual art history of 20th century. This outstanding school affirmed innovative training methods and also created a place of production and a focus of international debate. It brought together a number of the most outstanding contemporary architects and artists. The Bauhaus stood almost alone in attempt to achieve reconciliation between the aesthetics of design and the more commercial demands of industrial mass production.

The teaching program was organized in the form of workshops to produce works that were both aesthetically pleasing and useful. The creed of this program asserted that the modernization process could be mastered by means of design. As a result, in 1923 the Bauhaus turned it attention to industry. The first major Bauhaus exhibition which was opened in 1923 reflected the revised principle of art and technology a new unity spanned the full spectrum of Bauhaus work. It was Art and Technology, a New Unity, which was also the name of the workshop in which the art was created.

The Nazi Party and other fascist political groups had opposed the Bauhaus throughout the 1920s. They considered it a front for communists, especially because many Russian artists were involved with it. Gropius was succeeded in turn by Hannes Meyer and then Ludwig Mies van der Rohe. School was moved first from Weimar to Dessau, from Dessau again to Berlin, and was closed on the orders of the Nazi regime in 1933.

The Bauhaus had a major impact on art and architecture trends in western Europe and the United States in the decades following its demise, as many of the artists involved fled or were exiled by the Nazi regime.

Art Deco

1920-1930
Art Deco represented the rapid modernization of the world. While the style was already widespread and was in fashion in the United States and in Europe, the term Art Deco was not known. Modernistic or the "1925 Style" was used. The name Art Deco was derived from the 1925 "Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriels et Modernes", held in Paris.

Art Deco was primarily an elegant design style dominant in decorative art, fashion, jewelry, textiles, furniture design, interior decoration, and architecture. It began as the Modernist follow-up style on Art Nouveau but more simplified and closer to mass production.

Different types of wood and precious metals, tortoise shell, lacquer, egg shell, shagreen, leather, a cross-fertilization of styles either imported from colonial empires and the Orient or borrowed from art history, all were the characteristic signs of this exceptional craftsmanship aimed primarily at a rich international clientele. It was an updated look based on very classical forms. It was a style "at once traditional and innovative". (Bayer) The main elements of Art Deco architecture were its nonstructural decorative elements and its focus on modernity. It is characterized by the use of crisp, symmetrical geometric forms. The style is reminiscent of the Precisionist art movement, which developed at about the same time.

Well-established artists at the time were painter Tamara de Lempicka, a jeweler and glassmaker, Rene Lalique, fashion illustrator Erte and graphic designer Adolphe Mouron(Cassandre). New York skyscrapers The Chrysler building and Empire State Building were examples of 1930s-era of Art Deco style in architecture. The latter, designed by architect William Van Alen, is considered to be one of the world's great Art Deco buildings.

Art Deco was the showcase of a modern society in which tastes and styles were becoming international, shared as much by the key players of the Roaring Twenties in the United States as by Indian maharajahs and the gentry of Old Europe. With its sense of modernity and its simple, elegant style, it has proven itself through its longevity.

Jumat, 02 November 2007

Late Gothic

(14th - 15th Century)
The Late Gothic is the bridge between the Middle Age and the Renaissance. The Crusades and trade that followed from them brought an influx of Byzantine art and artists to western Europeans. This influence appears strongly in the emotionalism of a large wooden crucifixes and icons. Although they are still Byzantine in style, they were becoming more 'Western' in treatment. Through these connections many literary works of classical antiquity were brought to the West. The new age began in the 14th century, where lawyers and notaries imitated ancient Latin style and studied Roman archaeology.
The novel unification of the characteristic style in art in Europe also took place at the end of the fourteenth century. The new hegemony was the consequence of a multifarious exchange of various artistic ideas and had lasted for several decades. It is difficult to point out the place and the time where the style came into being. That style was named the International Gothic.
The most significant artists of the period are Cimabue and Giotto. Giotto was trained in the Byzantine tradition. The art characterize rediscovery of the third dimension, of real and measurable space and architectural vocabulary based on the study of Classical structures.

Kamis, 01 November 2007

Museum Jamu Nyonya Meneer

Terletak di Jl. Kaligawe, museum ini didirikan pada tanggal 18 Januari 1984. Sebagai pusat informasi, promosi dan sebagai media untuk melestarikan warisan budaya tradisional, tentang jamu yang berkhasiat dimana semua bahannya didapat dari tanah air kita sendiri. Museum Nyonya Meneer menempati ruang seluas 150 m² yang menyimpan berbagai koleksi benda budaya tentang jamu serta koleksi pribadi Nyonya Meneer yang berupa foto-foto dan sejarah cara pembuatan jamu dengan menggunakan alat-alat tradisional (lumpang dan alu, pepesan, cuwo, panel dan bothekan/tempat menyimpan resep asli ramuan jamu). Museum dibuka setiap hari Senin-Jumat pada jam 10.00 – 15.30 WIB. Di sini pengunjung tidak dipungut biaya, selain itu pengunjung dapat menyaksikan pemutaran slide tentang tata cara proses pembuatan jamu serta dapat mencoba serbat hangat Jamu Nyonya Meneer.

Jumat, 26 Oktober 2007

Iklan Ciu Tempo Doeloe

ARAK MERK YAP GOAN THAY
Toewa, moeda,lakie, prampoean bole minoem ini arak DJIM SOM TJIOE boewat bikin KOEWAT BADAN ilangkan PEGEL serta bikin BERSIE DARA (nifas atawa haid).

Iklan tjioe macam begini banyak terdapat pada koran-koran terbitan Betawi tahun jebot. Dalam Bintang Betawi dimuat iklan ciu dari pabrik Louw Yang Sin dan Ban Seng Tong sementara di koran Pembrita Betawi ada mereka ciu merek Tjoen Seng Tong dan Yap Goan Thay (iklan diatas). Bahkan di rumah-rumah obat, banyak ditawarkan iklan arak dengan promosi mampu bersihkan darah dan 1001 macam khasiat.

HABIS MANIS, AMPAS JADI TJIOE

Arak yang baik biasanya dibuat dari beras atau beras ketan hitam yang diberi ragi, namun saat itu produksi tebu di Batavia sedang moncer sehingga ciu banyak dibuat dari sisa penggilingan tebu yang masih mengandung 25-40% gula yang setelah melalui proses peragian selama 1 minggu lebih, barulah menjadi ciu.

Konon Ciu asal Betawi kesohor karena selain warnanya yang kuning keemasan, rasanya pahit-pahit manis dengan kandungan alkohol 60-66%.

Tak heran jumlah pabrik ciu di Betawi makin meningkat. Pada tahun 1712 saja baru ada 12 pabrik. Eh tiga tahun kemudian yaitu tahun 1715 sudah menjadi 18 buah, dan mencapai puncaknya pada 1761 sampai 1793 ada 20 pabrik dengan masing pabrik mampu mengeluarkan 600 legger (1 legger=400 kan.)

Orang bilang 1 legger adalah 1 gentong.

Tak kurang Gubernur Jendral Rafles adalah pendukung militan terhadap kepada Ciu van Batavia. Jauh-jauh dari Bengkulu setiap bulannya ia tidak lupa memesan 1 legger Ciu asal Batavia karena "tiada baoe minuman keras sedikitpun di Bengkulu"

MULAI DAPAT PESAING

Masa keemasan Tjioe di Batavia mulai suram khususnya pada abad ke-18 pasalnya orang Inggris mulai mendapat pasokan arak enak dan murah dari Ceilon sehingga menepis produksi arak di Betawi sampai jeblok.

Apalagi dengan politik pintu terbuka (kalau sekarang era globalisasi), maka bermacam merek minuman keras masuk ke Batavia sehingga produk lokal kalah bersaing dengan produk luar. Mulai dari kemasan, sampai ke iklan yang diolah secara holistik memprovokasi massa berperilaku bule atau "baru jadi manusia modern kalau sudah berprilaku seperti bule"

"Yang minum Tjioe lokal cuma juragan Ikan Peda....," kata sebuah iklan lain.

Atau kalau jaman sekarang Arak Lokal sama rasanya dengan burket, sepet doang

Bisa dilihat bahwa pada tahun 1827 industri arak di Betawi mulai gulung tikar satu persatu sehingga longsor tinggal 8 saja. Kebanyakan yang masih eksis adalah pabrik arak kecil yang umumnya memproduksi arak untuk kebutuhan obat gosok atau patah tulang belaka.

Mengintip Kejayaan "Passer Baroe" di Masa Lampau

pasarbaroe

Pasar Sepatu

Pasar_Baru_1920aKejayaan "Passer Baroe" sudah diketahui di masa Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) dulu. Daerah "Passer Baroe" dulu tidak hanya dikenal sebagai daerah elite karena berada tidak jauh dari kawasan Rijswijk (Jalan Veteran) yang dibangun pemerintah Kompeni Belanda untuk orang-orang kaya di Batavia. Ya, sekarang ini mirip kawasan Menteng atau Pondok Indah.


Di daerah pasar itu juga dikenal sejumlah tukang sepatu di masa Batavia dulu. Salah satu yang sangat terkenal bernama Sapie Ie. Pria keturunan Cina ini oleh pejabat-pejabat Kompeni Belanda dipercaya membuat bahkan memperbaiki sepatu dengan hak tinggi. Ya sepatu prajurit, ya sepatu untuk keperluan pesta. Namun Sapie Ie lebih dipercaya untuk membuat sepatu pesta. Soal ongkos, para pejabat Kompeni Belanda tidak dibuat pusing. Yang penting kualitas dijamin!



nn3

Pasar Baru 1898



Dalam buku bertajuk "Indrukken van een Totok, Indische type en schetsen", secara gamblang dijelaskan peran tukang sepatu Sapie Ie di daerah "Passer Baroe". Justus van Maurik, sang penulis buku tersebut, menceritakan bagaimana ia terpaksa harus berhubungan dengan Sapie Ie hanya karena harus mengenakan sepatu hak tinggi untuk memenuhi undangan sebuah pesta dansa di Gedung Harmonie. "Saya kaget ketika menerima surat undangan untuk menghadiri pesta dansa dari Gubernur Jenderal van der Wijck," tulis Justus van Maurik dalam bukunya itu. Dalam undangan yang disampaikan langsung Gubernur Jenderal van der Wijck tersebut disebutkan bahwa pesta dansa dilakukan pada Minggu, 2 Agustus tepat pukul 21.00 malam. Justus pun bersiap diri.

Ia mulai menyiapkan pakaian yang terbaiknya hanya untuk menghormati surat undangan Gubernur Jenderal van der Wijck. Celana panjang, rompi dan jas warna hitam telah disiapkan. Namun sayangnya, sepatu yang dimilikinya ternyata tidak pas untuk sebuah pesta dansa, apalagi yang digelar Gubernur Jenderal van der Wijck. Oleh teman-temannya ia disindir habis karena sepatu bututnya itu. "Masa kamu mau hadiri pesta dansa pakai sepatu butut itu?" sindir rekan-rekan Justus.

Atas desakan salah seorang temannya yang sudah lebih dulu menetap di Kota Batavia, Justus disarankan untuk memesan sepatu lak ke tukang sepatu Sapie Ie di "Passer Baroe". Dengan ramah Sapie Ie menerima pesanan sepatu lak Justus. Karena kakinya agak besar maka Sapie Ie meminta tambahan ongkos sebesar 50 sen.

nn4

Pasar Baru 1900



Uniknya, memesan sepatu dari Sapie Ie, si pemesan bisa menunggu. Sambil menunggu sepatu pesanannya selesai, Justus van Maurik jalan-jalan dulu mengitari daerah Rijswijk (kini Jalan Veteran). Lama memang, tapi yang penting bagi Justus bisa ikut pesta dansa. Dalam hitungan jam akhirnya sepatu hak pesanan itu selesai. Sayangnya, ketika dicoba ternyata agak sempit. Tapi kereta jemputan untuk mengikuti pesta sudah di depan mata, maka dengan jalan agak kesakitan Justus van Maurik melupakan rasa sakit kakinya itu.

Usai pesta Justus melepaskan sepatunya yang katanya sempit itu. Begitu dibuka di dalamnya ada bon utang. Di ujung sepatu lak kiri ada bon tagihan yang dilipat rapi. Ya, mungkin karena ketika itu Sapie Ie si tukang sepatu enggan menagih kekurangan pembayaran sepatu sehingga ia menaruh bon tagihan di dalam sepatu. Akibat ulah itu kaki Justus van Maurik bengkak. Keesokkan harinya ia mendatangi toko Sapie Ie dan membayar bon pembuatan sepatu lak itu.

Pasar_Baru_1901

Pasar Baru 1901



Lomba Perahu

Sungai Ciliwung yang melintas di "Passer Baroe" sering digunakan untuk lomba perahu. Orang menyebutnya Kali Passer Baroe waktu itu. Nah, di masa Kota Batavia dulu di tempat yang sama juga digelar lomba perahu untuk memperebutkan batang bambu berdaun yang diikat dengan sapu tangan, cita dan bahkan sebungkus kecil candu seharga 32 sen.

Lomba perahu di Ciliwung dilakukan dalam rangka pesta Peh Cun, sebuah perayaan etnis Cina di Kota Batavia. Semasa Batavia dulu memang daerah itu dikenal pula sebagai pusat perdagangan atau pasar. Di sana banyak bermukim orang-orang Cina yang tidak betah menetap di daerah Pecinan Glodok. Sebagian dari mereka memilih membuka toko di "Passer Baroe".

Pasar_Baru_1910

Pasar Baru 1910



Tradisi pesta Peh Cun digelar tanggal 5 bulan 5 penanggalan Cina, para pedagang di pasar itu sejenak melupakan bisnisnya dan beramai-ramai berkumpul di sepanjang Ciliwung untuk menyaksikan penyelenggaraan Peh Cun. Puluhan perahu yang dihias di antaranya ada yang dihias dengan topeng kepala naga berlaga di Kali "Passer Baroe" itu. Semua orang tumpah ruah di sana (tak cuma etnis Cina) tapi juga penduduk di sekitar kali itu. Sorak-sorai bergema di sana apalagi begitu perahu-perahu itu berlomba untuk mendapatkan batang bambu berdaun yang diikat dengan sapu tangan. Dan juga ditaruh sebungkus kecil candu seharga 32 sen. Etnis Cina memang sudah sejak lama dikenal gemar candu. Makanya, tak heran jika di Kota Batavia dulu, pemerintah Kompeni Belanda mematok pajak candu bagi rumah-rumah candu.

Pasar_Baru_1915

Pasar Baru 1915



Pasar_Baru_1920

Pasar Baru 1920



Pasar_Baru_1935

Pasar Baru 1935



Pasar_Baru_1949

Pasar Baru 1949



Pasar_Baru_1955

Pasar Baru 1955



Dan sebagai pusat perbelanjaan tertua di Ibu Kota Jakarta. Pasar Baru memiliki agenda tahunan – saban ulang tahun Jakarta, 22 Juni – Pasar Baru ikut nimbrung dalam sebuah kemasan yang dinamakan "Festival Passer Baroe". Sayangnya, "Passer Baroe" — begitu dulu dinamakan orang, kini dikenal sebagai Pasar Baru — perlahan-lahan mulai tampak kalah pamor menyusul menjamurnya pusat perbelanjaan modern seperti mal dan plaza yang menampung kerakusan belanja warga Jakarta.

Pasar_Baru_2001b

Pasar_Baru_2001

Pasar_Baru_2001a

Pasar Baru Tahun 2001-an

Source: http://kotatua.blogspot.com

Minggu, 21 Oktober 2007

BPOM





Badan Pengawas Obat dan Makanan atau disingkat Badan POM adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia. Fungsi dan tugas badan ini menyerupai fungsi dan tugas Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat.

Fungsi

Badan POM berfungsi antara lain:

  1. Pengaturan, regulasi, dan standardisasi
  2. Lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan Cara-cara Produksi yang Baik
  3. Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar
  4. Post marketing vigilance termasuk sampling dan pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, penyidikan dan penegakan hukum.
  5. Pre-audit dan pasca-audit iklan dan promosi produk
  6. Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan;
  7. Komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk peringatan publik.

Kepala Badan POM yang sekarang adalah Drs. H. Sampurno. MBA yang diangkat sejak 31 Januari 2001.

Wikipedia.org


Tea Story

Kisah SHEN NUNG
Negeri Cina dipercayai sebagai tempat kelahiran tanaman Teh. Kisah yang paling banyak diikuti tentang asal usul Teh, adalah cerita tentang Kaisar Shen Nung yang hidup sekitar tahun 2737 sebelum masehi. Kaisar Shen Nung juga disebut sebagai Bapak Tanaman Obat-Obatan Tradisional Cina saat itu. Konon kabarnya, pada suatu hari ketika sang Kaisar sedang bekerja di salah satu sudut kebunnya, terlebih dahulu ia merebus air dikuali di bawah rindangan pohon. Secara kebetulan, angin bertiup cukup keras dan menggugurkan beberapa helai daun pohon tersebut dan jatuh kedalam rebusan air dan terseduh. Sewaktu sang Kaisar meminum air rebusan tersebut, ia merasa bahwa air yang diminumnya lebih sedap daripada air putih biasa, dan menjadikan badan lebih segar.
Daun yang terseduh kedalam rebusan air sang Kaisar adalah daun Teh. Dan sejak saat itu teh mulai dikenal dan disebarluaskan.

(Gambar diambil dari buku : "China-Homeland of Tea", diedit oleh "China National Native Produce & Animal By Products Import & Export Corporation", dan diterbitkan bekerja sama dengan "Educational & Cultural Press Ltd. Hongkong", 1989.)

Kisah DARUMA
Bangsa Jepang, memiliki cerita lain tentang Teh yang dikaitkan dengan penyebaran agama Budha oleh seorang pendeta budha bernama Daruma yang hidup sekitar tahun 520 M. Menurut legenda, pohon Teh pertama tumbuh dari potongan kelopak matanya. Hal tersebut terjadi karena sewaktu Daruma sedang bertapa, ia tertidur dan ketika terjaga ia sangat marah karena ia sampai tertidur pada saat bertapa. Untuk mencegah jangan sampai tertidur kembali, maka Daruma memotong kedua belah kelopak matanya dan dibuang ke tempat tak jauh dari dia bertapa. Tidak lama setelah itu, tempat dimana kedua belah kelopak mata Daruma dibuang tumbuhlah pohon yang kita sebut sebagai pohon Teh dan menjadi tanaman Teh pertama versi Bangsa Jepang.

Kisah LU YU
Untuk pertama kalinya pada tahun 780 seorang cendikiawan bernama LU YU mengumpulkan dan membukukan temuan-temuan akan manfaat dan kegunaan Teh kedalam sebuah literatur mengenai Teh, yaitu Ch'a Cing atau The Classic Of Tea.

(Gambar diambil dari buku : "China-Homeland of Tea", diedit oleh "China National Native Produce & Animal By Products Import & Export Corporation", dan diterbitkan bekerja sama dengan "Educational & Cultural Press Ltd. Hongkong", 1989.)





PENYEBARAN TEH DUNIA

A. Jalur Sutra
Selama masa pemerintahan Dinasti Han Tang Soon dan Yuan, komoditas Teh diperkenalkan ke dunia luar
( dari Cina ) melalui pertukaran kebudayaan menyeberangi Asia Tengah menyelusuri Jalur Sutera.

(Gambar diambil dari : "Microsoft Encarta 96 World Atlas", Microsoft Corporation.)

B. East India Company
Pada tahun 1644, East India Company yaitu perusahaan perdagangan Inggris dibawah pemerintahan Ratu Elizabeth I - membuka kantor di Xiamen. Pada masa itulah, daun Teh dikenal umum sebagai minuman yang diseduh dengan air panas. Dan tahun 1669, East India company mendapatkan lisensi mendatangkan komoditas Teh dari Cina ke Inggris dengan menggunakan kapal Elizabeth I selama sembilan tahun memonopoli perdagangan Teh sampai dengan tahun 1833.

(Gambar diambil dari buku : "The Book of Tea", Flammarion, 1992.)

C. Boston Tea Party
Bagian cukup menarik dari kisah perdagangan Teh oleh bangsa Inggris adalah ketika East India Company pada tahun 1773 boleh berdagang Teh langsung dari Cina ke Amerika ( yang pada saat itu masih termasuk ke dalam koloni bangsa Inggris ) dengan memotong jalur perdagangan dan perpajakan yang merugikan exportir Eropa dan Importir Amerika. Peristiwa itu mengakibatkan marahnya penduduk Boston, dan pada saat kapal pengangkut komoditas Teh merapat di pelabuhan Kota Boston, maka serentak penduduk kota tersebut menaiki kapal dan membuang seluruh peti yang berisi komoditas Teh kedalam laut peristiwa itu dikenal sebagai BOSTON TEA PARTY yang berakibat pula tercetusnya revolusi Bangsa Amerika terhadap penjajahan bangsa Inggris.

(Gambar diambil dari buku : "The Book of Tea", Flammarion, 1992.)

D. Masuknya Teh ke Indonesia
Teh dikenal di Indonesia sejak tahun 1686 ketika seorang Belanda bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu penggunaannya hanya sebagai tanaman hias.
Baru pada tahun 1728, pemerintah Belanda mulai memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-biji Teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa. Usaha tersebut tidak terlalu berhasil dan baru berhasil setelah pada tahun 1824 Dr.Van Siebold seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit Teh dari Jepang. Usaha perkebunan Teh pertama dipelopori oleh Jacobson pada tahun 1828 dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, Teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam rakyat melalui politik Tanam Paksa ( Culture Stetsel ). Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan Teh diambil alih oleh pemerintah RI. Sekarang, perkebunan dan perdagangan Teh juga dilakukan oleh pihak swasta

Souce: http://www.sosro.com/indonesia/it_sejarah_teh.htm


Sabtu, 20 Oktober 2007

Jamu Dalam Masyarakat Indonesia

Di Indonesia, banyak orang yang tergolong fanatik mengonsumsi jamu.
Jika
badan terasa tak enak dan rasa ngilu mendera segera mereka minum jamu
untuk
menghilangkannya. Hal ini telah mereka lakukan belasan tahun kemudian
menjadi
tradisi yang dilakukan secara turun temurun. Bagi mereka yang sudah
terbiasa,
jamu tradisional dianggap lebih mujarab dan lebih aman dibandingkan
dengan
obat-obatan sintetis.

Para penggemar dan pengguna jamu di kalangan masyarakat bahkan
jumlahnya
kian bertambah. Bagi mereka, minum cairan pahit dengan aroma
rempah-rempah yang
sangat kuat bukan menjadi masalah; hal terpenting adalah khasiat dan
kegunaan
yang dirasakan. Selama ini ada anggapan bahwa jamu identik dengan
bahan-bahan
natural yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, berupa akar-akaran,
daun-daunan,
umbi-umbian dan berbagai bagian tumbuhan yang lain.

Oleh karena itu menurut pandangan ini jamu dapat diminum kapan saja dan
oleh siapa saja tanpa takut adanya efek samping. Dengan demikian banyak
orang
yang menganggap bahwa jamu selama ini hanya dikenal sebagai campuran
bahan-bahan
dari tumbuhan. Namun pada kenyataannya bahan-bahan yang berasal dari
hewan juga
digunakan sebagai ramuan jamu. Dengan demikian perlu ada kehati-hatian
dalam
memilih jamu.

Terlebih lagi ketika jamu sudah menjelma menjadi komoditi industri dan
berinteraksi dengan bahan-bahan obat modern. Beberapa waktu lalu di
daerah
Cilacap dan sekitarnya ditengarai adanya jamu tradisional yang
menggunakan bahan
kimia obat. Fakta ini menunjukkan bahwa sebenarnya jamu-jamuan yang
lainpun
tidak akan lepas dari peran bahan-bahan olahan dan bahan kimia. Oleh
karena itu
perlu kewaspadaan dan kehati-hatian dalam mengkonsumsinya, baik dari
aspek
kehalalan maupun keamanan fisik. Dari segi bahan dasar, jamu tidak
sepenuhnya
berasal dari bahan-bahan tumbuhan.

Perkembangan jamu dimulai dari ramu-ramuan tradisional yang berkembang
di
tengah masyarakat, yang kemudian berkembang menjadi ramuan jamu yang
diyakini
memiliki khasiat tertentu bagi tubuh manusia. Pada kenyataannya ramuan
tradisional itu juga mengenal bahan-bahan hewani, seperti kuda laut,
jeroan ayam
(empedu, limpa, tembolok, dsb) dan ekstrak berbagai bagian dan jenis
binatang.
Kehadiran ekstrak atau bahan dari hewan itu tentu saja menimbulkan
masalah
tersendiri dari segi kehalalan.

Sebab penggunaan hewan ini harus dilihat dari segi jenis hewannya dan
metode pemotonganya. Dari data yang dihimpun Jurnal Halal ternyata ada
indikasi
penggunaan bahan-bahan hewani dalam jamu-jamu modern yang beredar di
masyarakat.
Selain itu bahan penolong dan bahan pembantu lainnya dalam pengolahan
jamu
modern juga dapat melibatkan bahan-bahan haram atau subhat. Kini jamu
tidak
hanya berbentuk serbuk kasar yang berserat saja, seperti halnya
jamu-jamu pada
zaman dahulu.

Perkembangan teknologi proses dan pengolahan telah menyentuh industri
jamu. Kini produk tersebut sudah ada yang berbentuk ekstrak (sari)
instan,
berbentuk kaplet, tablet dan juga kapsul. Nah selama proses ekstraksi,
pembentukan kaplet dan tablet serta penggunaan kapsul ini memungkinkan
masuknya
bahan-bahan haram semisal gelatin. Kini jamu semakin berkembang dalam
dunia
modern dengan penampilan yang lebih baik dan menarik.

Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan bagi kalangan pengusaha yang
meghasilkan jamu tersebut adalah bahwa aspek kehalalan jangan sampai
terlupakan.
Sebab jika hal ini tidak dicermati dengan baik, pandangan jamu sebagai
bahan
yang alami, halal dan aman terkikis dengan kecurigaan dan was-was di
kalangan
masyarakat.

Rabu, 10 Oktober 2007

Tentang Obat Kuat

Laki-laki sebagai superior rupanya kagak mau kalah dengan wanita,
termasuk dalam hubungan intim. Pokoknya pria ingin tampil luar biasa. Paling
takut kalau sampai dianggap 'loyo'. Karenanya, tidak heran kalau kini
sudah tidak terhitung lagi banyaknya kios yang menjual obat kuat. Bukan
hanya di Jakarta, tapi seperti layaknya penyakit sudah mewadah sampai
ke kota-kota kecil dan daerah pinggiran. Namanya pun beribu macam,
terpampang dengan huruf-huruf besar.

Karena umumnya yang dijual obat impor dari Cina, nama kios ikut-ikutan
memakai nama Cina. Seperti A Kiong, A Ceng, A Hong, tentu saja dengan
mempopulerkan obat-obat yang sudah terkenal seperti Viagra. Menjamurnya
kios 'obat kuat', tentu saja karena peminatnya cukup banyak.
Obat-obatan Cina, termasuk obat kuat, sejauh ini harganya memang lebih murah
katimbang obat produk negara lain. Begitu trend-nya obat kuat Cina,
sehingga jamu-jamu lokal yang menawarkan jenis obat yang sama sengaja memakai
label buatan Cina.

Kita tidak tahu bagaimana khasiat obat kuat, yang dengan huruf-huruf
besar mereka namakan obat hot atau penambah gairah seks. Tapi yang jelas,
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) telah menemukan 15 produk
ilegal obat kuat tradisional yang dicampur bahan kimia obat keras sidenafil
sitrat. Penggunaannya, menurut BPPOM, harus selalu di bawah pengawasan
ketat dokter setelah ada diagnosa pasti tentang disfungsi ereksi.
Sampai diingatkan begitu berbahayanya jenis obat ini, mereka yang
berpenyakit jantung misalnya, 'bisa mati di ranjang'.

Di antara nama jamu dan kapsul produk ilegal yang dicampur sidenafil
sitrat adalah Jamu Sehat Pria Seksi Samiaji, Jamu Pasihot Andalan Pria
Perkasa, Obat Kuat dan Tahan Lama Pegasus Kuda Terbang, Penambah
Vitalitas Pria -- dan masih banyak lagi dengan nama dan merek seram-seram.

Rupanya, masalah seks mendapat perhatian dalam acara-acara talk show di
televisi-televisi. Tidak kalah gencarnya di media cetak, seperti
suratkabar, majalah, tabloid, menjadi rubrik, yang banyak penggemarnya.
Karena itulah, nama pakar seksologi, seperti Boyke Dian Nugroho, Naek L
Tobing, dan Wimpie Pangkahila, tidak kalah popoler dengan pakar-pakar
politik, ekonomi dan hukum.

Rupanya kecenderungan semacam itu bukan hal baru. Pada tahun 1960-an
dan 1970-an misalnya, di berbagai media juga sering didapati iklan jenis
obat kuat. Judulnya juga kagak kalah menyeramkan dari iklan dan reklame
di kios-kios obat kuat. Sebuah tabib dari Pakistan di Sawah Besar
menjual obat kuat dengan judul, ''Nafsu besar tenaga kurang, seperti rayap
makan kayu.'' Sang tabib ingin menawarkan 'keperkasaan' bagi pria yang
dikatakannya lemah syahwat.

Ada pula seorang tabib yang menawarkan pria yang dikatakannya tidak
'normal' akan menjadi 'kencang' kembali setelah minum obatnya. Di
tahun-tahun tersebut, memang para tabib dari Pakistan yang lebih banyak menjual
obat kuat. Termasuk obat dan ramuan untuk para ibu agar 'disayang'
sang suami.

Pada tahun 1950-an, beberapa pedagang kaki lima tiap malam menggelar
lapak di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Mereka menjual tangkur buaya,
yang dikatakannya sebagai obat kuat dan 'tahan lama'. Bentuknya seperti
cincin, setelah diminyaki, tengahnya dimasuki benang untuk diikatkan ke
pinggang. Pengobatan yang populer di kaki lima tahun 1950-an itu, kini
tidak ada lagi. Rupanya sudah kalah populer dengan pengobatan Cina.
Apalagi sejak nama Mak Erot dikenal.

Agak ke belakang lagi, pada zaman Belanda juga ada iklan-iklan semacam
itu. Seperti di Harian Bentara Hindia (terbit 1921) ada iklan sebuah
buku mengenai hubungan suami-istri. Tapi saya sendiri tidak tahu apa arti
Wet dan Rrasia -- judul buku itu. Buku itu dicetak tebal, kentara dari
isi iklan: Harga satoe boekoe tebel dan format bewsar 15 goelden
tambgah ongkos kirim. Pesanan yang disertakan oewangnya, ongkos kirim frij.

Masih iklan obat kuat, ada judul yang tidak tanggung-tanggung, Sjorga
Doenia. Coba simak isinya: Satoe waktoe toean perlu boeka? Adalah
djagonja dalampertoeloengan yang teroetama boeat orang lelaki jang tidak
dapat perindahan tjoekoep dan sempoerna oleh orang prampoean. Tanggoeng
lantes terboekti menjenangken bagi jang pake. Ini obat satu does coema F 5
(goelden) dan bisa pake 15 atawa 20 kali. Boeat yang beli 5 does bisa
dapet potongan 20 persen.

Rupanya sejak tempo doeloe kaum hawa sudah mendambakan agar memiliki
bentuk tubuh langsing dan indah. Sikmaklah iklan di Majalah Sin Po
Agustus 1930: Mode sekarang tidak iidzinkan lagi orang berperoet gendoet.
Toean-toean dan njonja-njonja akan merasa girang yang kita sedia sematjam
band peroet yang dinamaken MAS (Modern Abdominal Supporter). MAS dengan
goemilang berhasil ilangkan peroet gendoet, peroet monjong atawa
peroet yang bagaimana besar. MAS djoega bikin itu kita poenya badan jadi
lempeng.

Rupanya, ketika itu istilah langsing belum dikenal. Sehingga ibu-ibu
ingin sekali badannya jadi lempeng. Produk MAS yang gencar diiklankan
belum tentu jelas khasiatnya. Tapi, yang pasti iklan semacam itu kini
merebak di televisi. Jadi roda zaman memang selalu berputar.