Selasa, 21 Agustus 2007

Mitos Seks, dari "Tangkur" Buaya Sampai "Daun Muda"

Bahkan, wanita dianggap sebagai makhluk yang aseksual. Karenanya banyak pria yang menganggap urusan seks tidak penting bagi wanita. Dengan kata lain wanita dianggap hanya bertugas melayani kebutuhan seksual pria, bukan sebaliknya yakni saling melayani. Ini merupakan suatu anggapan yang dapat menimbulkan akibat cukup parah --khususnya dalam hubungan suami istri. Pria, yang selalu diunggulkan oleh mitos-mitos itu, akan merasa sangat kecewa dan terpukul kalau ternyata ia tidak lebih hebat dari wanita pasangannya. Pria dapat merasa sangat kecewa kalau ternyata ia gagal memberi kepuasan seksual pada wanita. Bahkan, tidak sedikit pria yang kemudian menderita disfungsi ereksi karena perlakuan sang istri yang melecehkannya akibat tidak pernah merasakan kepuasan seksual. Karena mitos seks, banyak orang yang melakukan upaya untuk memenuhi harapan sesuai dengan mitos itu. Tidak jarang yang kemudian mengalami akibat buruk karena upaya yang dilakukan tidak benar.

Berikut sejumlah mitos seks yang beredar di masyarakat:

Hubungan seksual dengan orang yang lebih muda dapat membuat awet muda. Benarkah?
Ada anggapan yang menyatakan bahwa hubungan seksual dengan anak muda akan menyebabkan awet muda. Karenanya banyak pria tua mencari wanita muda agar menjadi awet muda, sehingga muncul istilah ?daun muda?. Sebaliknya banyak pula wanita pekerja seks membujuk anak jalanan agar terangsang dan mau melakukan hubungan seksual sebagai ?obat awet muda?, walaupun dalam hal ini belum muncul istilah "batang muda" . Tentu saja fenomena ini sangat merugikan bahkan membahayakan bagi anak-anak jalanan itu. Kemungkinan mereka tertular Penyakit Menular Seksual (penyakit kelamin) sangat besar. Kalau penyakit yang menularinya adalah penyakit yang ?biasa? dan mudah disembuhkan, mungkin bukan suatu masalah besar. Tetapi bagaimana kalau anak-anak itu tertular HIV/AIDS? Yang pasti, tidak ada dasar ilmiah yang membenarkan bahwa hubungan seksual dengan anak muda akan menyebabkan awet muda. Anggapan ini jelas salah dan hanya merupakan suatu mitos.

Penyelewengan seksual dapat memperpanjang hidup. Bagaimana sebenarnya? Ini juga suatu mitos. Sama sekali tidak benar bahwa penyelewengan seksual dapat memperpanjang hidup. Justru sebaliknyalah yang telah terjadi. Beberapa kali terjadi seorang pria meninggal setelah melakukan hubungan seksual dengan wanira lain. Peristiwa kematian setelah melakukan hubungan seksual dengan orang lain terjadi karena yang bersangkutan menerima rangsangan seksual yang tidak seperti biasa, baik secara fisik maupun psikis. Rangsangan yang tidak seperti biasa ini menimbulkan reaksi seksual yang tidak seperti biasa pula. Sebagian reaksi seksual yang terjadi selama seseorang melakukan hubungan seksual ialah meningkatnya denyut jantung dan nadi, meningkatnya tekanan darah, dan meningkatnya irama napas. Perubahan peningkatan tersebut menjadi luar biasa kalau menerima rangsangan seksual yang tidak seperti biasanya. Akibatnya, dapat terjadi kematian pada saat mencapai orgasme karena pada saat itulah terjadi peningkatan yang paling tinggi pada denyut jantung dan nadi, tekanan darah, dan irama napas.

Menelan sperma memberikan manfaat dan membuat wanita awet muda. Benarkah demikian? Hal itu tidak benar sama sekali. Dari segi fisik tidak ada manfaat apapun yang didapat dengan menelan sperma. Jadi tidak benar dengan menelan sperma, wanita menjadi awet muda. Tetapi secara psikis mungkin wanita yang menelan sperma merasa lebih puas karena merasa dapat memuaskan pasangannya. Ada pula mitos yang menyatakan bahwa sperma dapat menghaluskan kulit. Pernyataan ini sama sekali tidak punya dasar ilmiah. Memang benar bahwa sperma mengandung berbagai bahan yang bermanfaat. Tetapi bukan berarti bahan-bahan itu langsung bermanfaat bila ditelan atau digunakan pada kulit.

Ukuran penis sangat penting bagi kepuasan seksual wanita. Benarkah ini? Mitos tentang ukuran penis sangat luas beredar dan diyakini oleh sangat banyak orang, baik pria maupun wanita. Informasi yang salah itu menyebutkan bahwa ukuran penis sangat menentukan kepuasan wanita dalam hubungan seksual. Semakin besar penis pria, semakin baik tingkat kepuasan yang dicapai wanita pasangannya. Akibatnya banyak pria berpenis kecil dalam keadaan tidak ereksi merasa rendah diri dan merasa takut melakukan hubungan seksual sehingga bahkan akhirnya tidak mampu melakukannya. Banyak pria yang berukuran tubuh besar merasakan dirinya tidak normal karena ukuran penisnya lebih kecil daripada orang lain yang berukuran tubuh lebih kecil. Padahal sebenarnya ukuran penis tidak berhubungan dengan ukuran tubuh pemiliknya. Dengan kata lain ukuran penis tidak dipengaruhi oleh ukuran tubuh pemiliknya. Anggapan yang salah ini mendorong orang yang berpenis kecil mencari jalan agar milik satu-satunya itu dapar menjadi besar. Di pihak lain, tentu saja ada orang yang memanfaatkan keadaan itu dengan menawarkan segala macam cara untuk membesarkan penis yang kecil itu. Tetapi segala macam cara itu, sungguh tidak ilmiah dan cuma memberikan sebuah harapan hampa, bahkan dapat menimbulkan akibat buruk bagi fungsi seksual. Sesungguhnya penis yang berukuran lebih kecil pada saat tidak ereksi, akan bertambah besar lebih banyak ketika berereksi daripada penis yang berukuran lebih besar dalam keadaan tidak ereksi. Selain itu besar kecilnya penis tidak berhubungan dengan kemampuan seksual seseorang. Di pihak lain kepuasan seksual wanita sebenarnya tidak ditentukan oleh besar kecilnya penis, melainkan oleh fungsi ereksi dan kemampuan mengontrol ejakulasi. Tetapi mungkin secara psikis dapat menimbulkan pengaruh yang tidak menguntungkan bagi pihak wanita sehingga menghambat fungsi seksualnya dan menghambat terjadinya orgasme. Apalagi kalau pihak wanita tidak mengerti bahwa sebenarnya secara fisik ukuran penis tidak menentukan.

Apakah benar ukuran penis tidak berhubungan dengan ukuran tubuh pemiliknya? Apa yang menyebabkan seorang pria memiliki penis besar atau kecil maupun panjang atau pendek? Berapa ukuran normal penis pria dewasa (besar dan panjangnya)? Benar, tidak ada hubungan antara ukuran tubuh dengan ukuran penis. Artinya, scorang pria yang tubuhnya berukuran tinggi dan besar tidak pasti demikian juga ukuran penisnya. Bahkan pria dengan ukuran tubuh besar, khususnya di bagian perut dapat menyebabkan ukuran penisnya relatif tampak lebih pendek dan kecil. Dalam keadaan seperti ini tampaknya ukuran perut yang besar menyebabkan penis menjadi terhalang dan ukurannya relatif kecil dibandingkan dengan ukuran perut. Perbedaan ukuran penis ditentukan antara lain oleh faktor perkembangan fisik secara umum dan pengaruh hormon testosteron. Kedua faktor tersebut tidak sama pengaruhnya pada setiap orang. Sama dengan perkembangan bagian tubuh lain, yang tidak sama pada setiap orang. Dalam perkembangan yang normal, rata-rata panjang penis dalam keadaan tanpa rangsangan sekitar 7-8 cm dengan ukuran lingkar sekitar 8-9 cm. Pada keadaan ereksi ukuran bertambah panjang menjadi sekitar 1,5 kalinya, demikian juga ukuran lingkarnya.

Kalau ukuran penis pria bervariasi, bagaimana dengan ukuran, bentuk, dan letak alat kelamin wanita? Apa pengaruhnya bagi pria pasangannya? Pada dasarnya bentuk dan letak kelamin wanita sama, walaupun ukurannya juga berbeda. Kelamin wanita terdiri dan bagian luar yang dapat dilihat dan luar, dan bagian dalam yang tidak dapat dilihat dan luar. Variasi ukuran juga ada pada wanita, misalnya besarnya /labia mayor/ (bibir besar) yang tidak pasti sama pada setiap wanita. Demikian juga ukuran panjang vagina. Tetapi dalam perkembangan yang normal ukuran itu tetap dalam batas normal. Kelamin wanita juga berubah bentuk dan ukurannya, tergantung rangsangan seksual yang diterima sehingga menimbulkan reaksi seksual. Sebagai contoh, vagina melebar dan memanjang pada fase rangsangan, fase datar, dan fase orgasme. Perubahan ini tidak berpengaruh bagi pria pasangannya, tetapi mempermudah berlangsungnya hubungan seksual.

Istri yang mengalami banyak perlendiran vagina itu tidak normal dan tidak memuaskan suami. Bagaimana yang benar? Salah satu reaksi seksual yang terjadi akibat rangsangan seksual pada wanita ialah terjadinya perlendiran pada dinding vagina sehingga vagina seolah-olah dilapisi oleh suatu lapisan yang licin. Justru sebenarnya perlendiran inilah yang membuat hubungan seksual berlangsung normal tanpa hambatan. Perlendiran vagina sebagai salah satu reaksi seksual terjadi karena aliran darah pada dinding vagina mengalami bendungan sehingga mengalami proses transudasi melalui dinding pembuluh darah. Pada proses ini, komponen cairan dan darah merembes keluar dari dinding pembuluh darah dan membentuk perlendiran vagina. Sebaliknya kalau vagina masih kering karena belum terjadi perlendiran, sebenarnya wanita belum mengalami reaksi seksual. Dalam keadaan vagina tanpa reaksi perlendiran berarti wanita belum siap melakukan hubungan seksual. Kalau dalam keadaan demikian hubungan seksual dilakukan juga akan terjadi hambatan berupa rasa sakit, baik pada pihak wanita sendiri maupun pria pasangannya. Bahkan hal itu dapat menyebabkan terjadinya peradangan vagina. Jadi, perlendiran vagina merupakan penstiwa yang normal dan harus terjadi kalau wanita mengalami reaksi seksual. Oleh karena itu suami haruslah memahami kenyataan ini.

Bagian kelamin binatang tertentu seperti ?tangkur? buaya, buah pelir kambing dan cula badak dapat memperbaiki fungsi seksual pria. Benarkah demikian? Ini juga merupakan mitos yang luas beredar di masyarakat. Hal ini berdampak sangat merugikan karena dapat menyebabkan kepunahan beberapa binatang langka. Bukan tidak mungkin karena mitos tersebut terjadilah perburuan terhadap buaya dan badak, hanya karena manusia ingin mendapatkan bagian tubuh tertentu milik binatang-binatang itu. Tidak benar bahwa bagian-bagian tubuh binatang itu dapat memperbaiki atau meningkatkan fungsi seksual pria. Sama sekali tidak ada kandungan tertentu di dalam kelamin buaya, buah pelir kambing dan cula badak yang dapat meningkatkan atau memperbaiki fungsi seksual pria. Fungsi seksual pria sangat ditentukan oleh hormon, fungsi pembuluh darah, fungsi syaraf dan otot, dan faktor psikis. Tidak ada hubungan tertentu antara bagian-bagian tubuh binatang itu dengan faktor-faktor yang menentukan fungsi seksual pria. Mitos itu muncul barangkali karena dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa binatang itu memiliki kekuatan fisik yang besar sehingga jika seorang pria menggunakan bagiar tubuh binatang itu --apalagi bagian kelamin akan menjadi ?kuat? juga dalam urusan seks.

Ras tertentu memiliki kelebihan atau perbedaan pada alat kelaminnya. Benarkah? Sudah lama kita mendengar ceritera mengenai ras atau etnik tertentu yang konon katanya mempunyai kelebihan pada alat kelaminnya. Ada ceritera tentang wanita dan ras atau etnik tertentu yang mempunyai kelebihan pada vaginanya. Ceritera ini jelas suatu mitos. Tidak ada perbedaan anatomi pada vagina karena perbedaan ras atau etnik. Kalaupun ada perbedaan antara ras atau etnik, perbedaan itu lebih pada ekspresi atau perilaku seksual, yang tidak dipengaruhi oleh faktor fisik. Perilaku seksual dipengaruhi oleh dorongan seksual, faktor sosiokultural, pengetahuan seksual, dan pengalaman seksual. Khusus mengenai faktor sosiokultural, inilah yang agaknya menjadi faktor penting bagi perbedaan perilaku seksual antar ras. Tetapi pada masa global kini, perbedaan sosiokultural antar ras menjadi semakin tipis sehingga pengaruhnya terhadap perilaku seksual berbagai ras atau etnik menjadi semakin tidak berbeda. Sebagai contoh ialah seks oral, yang kini ternyata menjadi sesuatu aktivitas seksual yang semakin umum dilakukan, khususnya di kalangan generasi baru Indonesia, baik pria maupun wanita. Padahal bagi generasi yang lebih tua, aktivitas seksual ini dianggap sesuatu yang aneh dan tidak boleh dilakukan.

Masturbasi dapat mengakibatkan kemandulan pada pria. Benarkah demikian? Mitos lain yang juga sangat luas beredar dan telah menjadi keyakinan banyak orang ialah mitos tentang masturbasi. Masturbasi, yang lebih umum dikenal dengan sebutan onani, dianggap dapat menyebabkan orang menjadi mandul, atau impoten, atau akibat-akibat lain seperti mata menjadi kabur, ingatan menurun, dan tulang menjadi keropos. Anggapan yang salah ini lebih jauh dapat menimbulkan kecemasan bagi banyak orang, terutama remaja, karena takut mengalami akibat buruk seperti anggapan menurut mitos itu. Sebenarnya kecemasan inilah yang justru pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan fungsi seksual. Mitos tentang masturbasi memang telah sangat lama beredar di masyarakat. Mitos ini agaknya diperkuat oleh sebuah buku berjudul /Onana,/ yang ditulis oleh Tissot pada abad ke 18. Di dalam buku itu diuraikan anggapan salah penulisnya bahwa masturbasi dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. Agaknya anggapan salah itu tetap diyakini sebagai sebuah kebenaran oleh masyarakat kita yang pengetahuan seksualnya memang sangat rendah. Istilah onani sebenarnya berasal dari nama seorang pria bernama Onan, seperti yang tertulis di dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Konon Onan diminta menikahi istri kakaknya setelah sang kakak meninggal dunia. Tetapi Onan ternyata tidak menginginkan anak dari wanita itu, sehingga ketika melakukan hubungan seksual dia melakukan sanggama terputus. Akibat perbuatan itu, Tuhan marah sehingga Onan akhirnya meninggal dunia. Agaknya dari kisah lama itu muncullah istilah onani. Akan tetapi, istilah onani kemudian diartikan sebagai masturbasi bukan sanggama terputus seperti yang dilakukan oleh Onan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hampir semua pria dan sekitar 80% wanita pernah melakukan masturbasi. Dan ternyata masturbasi tidak hanya dilakukan oleh mereka yang belum menikah. Sebagian orang yang sudah menikah --baik pria maupun wanita --pada keadaan tertentu masih juga melakukan masturbasi. Dalam perkembangan psikoseksual sebenarnya seorang anak pun telah mengenal masturbasi, yaitu ketika anak memasuki fase falus. Pada fase ini anak laki-laki maupun perempuan senang mempermainkan kelaminnya. Perbuatan ini sebenarnya merupakan suatu bentuk masturbasi juga. Dalam upaya mengatasi gangguan fungsi seksual, masturbasi justru digunakan sebagai salah satu cara. Untuk mengatasi kegagalan orgasme pada wanita, misalnya, salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan program masturbasi. Pada pria, masturbasi digunakan sebagai suatu cara untuk mengatasi ejakulasi terhambat.

4 komentar:

yus subianto mengatakan...

Tulisannya bagus dan memberikan informasi yang benar...saya tunggu yang berikutnya ya
makasih

yus subianto mengatakan...

Tulisannya bagus dan memberikan informasi yang benar...saya tunggu yang berikutnya ya
makasih

yus subianto mengatakan...

Tulisannya bagus dan memberikan informasi yang benar...saya tunggu yang berikutnya ya
makasih

Adhistya mengatakan...

Sip !!!